Sa’ad bin Abi Waqqas

Sa’ad bin Malik Az-Zuhri atau sering disebut sebagai Sa’ad bin Abi Waqqas, dilahirkan di Makkah dan berasal dari bani Zuhrah suku Quraisy. Dia adalah paman Rasulullah SAW dari pihak ibu. Ibunda Rasulullah, Aminah binti Wahhab berasal dari suku yang sama dengan Sa’ad yaitu dari Bani Zuhrah. Oleh karena itu Sa’ad juga sering disebut sebagai Sa’ad dari Zuhrah. Sa’ad termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam dan termasuk sepuluh sahabat yang mendapat jaminan surga. Sa’ad dilahirkan dari keluarga yang kaya raya dan terpandang. Dia adalah seorang pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut pendek.

Masuknya Sa’ad ke dalam Islam terjadi pada awal-awal munculnya Islam. Dia mengenal dengan baik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengetahui kejujuran dan sifat amanah beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah sering bertemu dengannya sebelum beliau diutus menjadi rasul. Beliau mengetahui betapa besar kecintaan Sa’ad untuk berperang dan juga keberaniannya. Ada dua peristiwa yang menjadikan Sa’ad selalu dikenang dan istimewa, pertama dialah yang pertama melepas anak panah untuk membela agama Allah. Kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Sabda Rasulullah SAW pada saat perang Uhud: “Panahlah hai Sa’ad! Ibu Bapakku menjadi jaminan bagimu ….” 

Dalam setiap peperangan siapapun panglimanya jika ada Sa’ad didalamnya maka pasukan akan merasa tenang. Bukan hanya karena kehebatannya dalam peperangan yang menciutkan hati musuh, tapi juga ketaqwaanya yang luhurlah yang menjadi hati sahabat lain menjadi tenang. Pada saat perang Qadishiyyah, Amirul mukminin Umar bin Khattab r.a mengangkat Sa’ad sebagai Panglima perang untuk melawan adidaya Persia pada saat itu, ketika Sa’ad mengirim utusan untuk berdiplomasi dengan Rustum (panglima perang Persia) yang akhirnya negoisasi itu berlangsung lama, dan muncullah pernyataan dari delegasi kaum muslimin.

Sa’ad memang seorang pemanah terkenal. Ketenarannya itu tidak lain karena dialah orang muslim pertama yang melepaskan anak panah untuk berjuang di jalan Allah, sebagaimana penuturannya: “Demi Allah, sayalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah.” Peristiwa itu terjadi ketika Rasulullah mengutus enampuluh orang ke Mekah di bawah pimpinan Ubaidah bin Haris. Mereka diutus karena kaum kafir Quraisy sering melakukan pelanggaran terhadap isi Perjanjian Hudaibiyah. Di antara keenampuluh orang itu, salah satunya adalah Sa’ad. Setibanya di Hijaz, mereka menuju mata air yang bernama Wadi Rabig. Ternyata, di sana telah menunggu pasukan kafir Quraisy yang berjumlah dua ratus orang di bawah pimpinan Abu Sufyan. Akhirnya, kedua pasukan yang tidak seimbang itu pun berhadap-hadapan dan siap saling menyerang. Melihat keadaan yang tidak begitu menguntungkan, Sa’ad dan teman-temannya berusaha untuk menghindari pertempuran. Mereka mengutus delegasi untuk melakukan perundingan dengan pihak kafir Quraisy. Dari perundingan itu dicapailah kesepakatan damai, sehingga pertempuran yang tidak seimbang terhindarkan.

Namun demikian, sempat juga terjadi bentrokan singkat ketika beberapa anggota pasukan kafir Quraisy menyerang. Saat itu, Sa’ad yang bersenjatakan panah dengan gagah berani melepaskan anak panahnya. lnilah anak panah yang pertama dilepaskan untuk membela agama Allah. Sa’ad tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang diikuti oleh Rasulullah. Setelah Nabi SAW wafat, dia juga tetap menjadi salah seorang prajurit kepercayaan para khalifah. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab r.a, Sa’ad diangkat menjadi panglima perang Qadisiyah yang amat menentukan keberhasilan syiar lslam di wilayah lrak. Perang Qadisiyah terjadi antara pasukan muslimin yang berjumlah sekitar tiga puluh ribu orang dengan pasukan Persia yang jumlahnya mencapai seratus ribu orang. Saat memimpin perang, Sa’ad sedang sakit. Sekujur tubuhnya dipenuhi bisul yang sangat menyiksa, yang berpecahan setiap kali tubuhnya terhentak di atas kudanya. Namun, meskipun sekujur tubuhnya berlumuran darah akibat bisul-bisul yang berpecahan, Sa’ad tetap bersemangat memimpin pasukannya meski sakit menderanya, dia tetap meneriakkan aba-aba dan takbir penggugah semangat dengan lantang sehingga pasukannya terus bertempur dengan semangat juang yang gigih’ ‘Ayo Abdullah, serang bagian sayap kiri. Engkau al-Haris’ masuk ke jantung pertahanan musuh. Engkau Fulan, ke arah sana. Ayo kita sambut surga’ Allahu akbar!”

Sumber:

As-Sa’id, S. M. (2012). 10 Sahabat Yang Di Jamin Surga. Solo: Al-Qowam

Hisyam, I. (2007). Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, terj Fadhil Bahri. Jakarta: Darul Falah

Khalid, K. H. (2012). Biografi 60 Shabat Nabi. Jakarta: Ummul Quran

Departemen Syiar UKM ASC



Tinggalkan Komentar