Pentingnya Khat dalam Peradaban Islam

Sebagai umat muslim tentu tidak asing dengan seni kaligrafi Arab. Bahkan menjadi seperti sebuah paradigma di Indonesia bahwa kaligrafi itu identik dengan tulisan Arab, walaupun pada dasarnya bentuk tulisan kaligrafi tidak selalu tulisan Arab akan tetapi dapat berbagai bentuk tulisan di seluruh dunia dapat menjadi kaligrafi. Namun dalam peradaban Islam dari dulu hingga sekarang kaligrafi tetap merupakan sebuah seni yang dijunjung tinggi oleh umat Islam. Hal ini terbukti melalui doktrin agama dan sejarah peradaban Islam dari masa ke masa yang mendukung keberadaan kaligrafi dalam Islam.

Kaligrafi dalam sudut pandang doktrin agama akan ditemui ayat-ayat yang menekankan betapa pentingnya sebuah tulisan. Iqra’ (bacalah) merupakan salah satu kata pertama dalam surat Al-Alaq wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Dalam surat tersebut yang terdiri dari lima ayat terdapat sebuah kalimat yang berbunyi, “(Tuhanmu) yang mengajari manusia dengan pena,”. Kemudian terdapat pula pada surat Al-Qalam (pena), “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis,”. Dua penggalan surat tadi merupakan bentuk penghargaan betapa pentingnya kegiatan menulis dan apa yang ditulis dalam kitab suci Al-Qur’an. Bentuk penghargaan terhadap kaligrafi juga ditunjukkan dalam hadits Nabi yang berbunyi sebagai berikut, “Ajarilah anakmu membaca dan menulis,” serta sebuah hadits yang berbunyi, “Barang siapa yang menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim dan memperindahnya, maka dia akan masuk surga,”. Tidak ketinggalan pula Ali RA. yang dijuluki sebagai “gerbangnya ilmu” oleh Rasulullah juga menghargai pentingnya menulis karena dengan menulis dan indahnya tulisan dapat membuka ilmu.

Selain dari doktrin agama yang menunjukkan penghargaan Islam terhadap kaligrafi, dalam hal ini kaligrafi juga memiliki kelekatan nilai religiusitas pada nilai estetika Islam yang mampu mengantarkan seseorang kepada nilai spritual Islam. perlu diketahui nilai religius berbeda dengan nilai spiritual dalam kaitannya di bidang seni. Tujuan manusia dalam berkegiatan seni tergolong menjadi empat yaitu kesenangan, vital, religius, dan spiritual sebagai nilai tertinggi dalam tujuan manusia berkegiatan seni. Nilai religius Islam yang terdapat pada kaligrafi adalah tercerminnya karya kaligrafi yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, maupun pepatah-pepatah Arab yang merupakan kalimat-kalimat yang bertujuan untuk mengingatkan seseorang untuk berdzikir berulang kali kepada Allah SWT, meneladani akhak-akhlak Rasulullah, serta nilai-nilai Islam lain yang tercermin pada pepatah-pepatah Arab. Sehingga dilihat dari isi atau teks yang dituliskan menjadi kaligrafi membuat seni ini dipandang sebagai manifestasi semangat religiusitas Islam.

 

Karya kaligrafer Mustafa Halim tahun 1335 H

(لا اله الا الله وحده لا شريك له)

Tidak ada Tuhan yang berhak diisembah kecuali Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya

 

Dilihat dari sisi yang lain kaligrafi juga menonjolkan nilai filosofis yang dalam dari tulisan yang terdapat pada kaligrafi sehingga perlu dijadikan bahan kontemplasi atau perenungan. Pada kaligrafi yang memiliki segi makna sehingga membuatnya dekat dengan dunia kesufian. Kaligrafi  pada sisi ini dianggap merupakan simbol atau perlambangan, seperti huruf alif yang dipandang sebagai satu-satunya huruf Ilahi yang sesuai dengan citra Tuhan. Alif adalah lambang Yang Esa, yang Dia saja Yang Ada, yang bagi-Nya tiada wujud yang mendahului wujud-Nya. Misal seorang sufi bernama Syaikh Ahmad Al-Alawi yang menulis dalam risalahnya,

“Apabila aku berbicara tentang titik, maksudku adalah rahasia Zat yang dinamakan kesatuan penglihatan (Wahdah Al-Syuhud), apabila aku bicara tentang huruf alif, maksudku adalah Yang Dia Sendirilah Yang Ada (Wahid Al-Wujud), Zat Yang Memerintah, dan apabila aku bicara tentang ba’, maksudku adalah pengejawantahan puncak yang diistilahkan sebagai Ruh Tertinggi, yang menyusul setelah itu huruf-huruf selebihnya, kemudian huruf-huruf tunggal, kemudian ucapan pada umumnya, seluruhnya secara bertingkat.”.

Sedemikian istimewa kedudukan kaligrafi di antara cabang-cabang seni Islam yang lain seperti seni musik dan arsitektur yang dalam hal-hal tertentu banyak dipengaruhi oleh gaya-gaya lokal dan sejumlah seniman non muslim. Sedangkan seni kaligrafi mencapai puncak keindahannya di tangan-tangan piawai seniman muslim sepenuhnya, tanpa campur tangan pihak lain. Barangkali apabila tanpa Islam huruf Arab tidak akan pernah berarti apa-apa. Dengan begitu dapat dilihat betapa dekatnya “dunia seni” dengan “dunia agama” dalam visi Islam. Hal ini dikarenakan seni kaligrafi berasal dari spiritualitas yang seimbang, serasi, dan harmonis. Keindahannya bukan muncul dari imajinasi tak terarah atau selera egois dari senimannya. Dalam kaligrafi Islam tidak ada kesan rebelli (memberontak), akan tetapai yang ada adalah bebas tetapi harmonis dan tentram. Sementara keindahannya dan keelastisannya adalah peta batin kaligrafer yang telah dinafasi oleh ruh religiusitas tertentu.

Sumber: Ali Akbar, Kaidah Menulis dan Karya-Karya Master Kaligrafi Islam

Karya kaligrafer Hafidz Utsman tahun 1099 H

 

Oleh : Rian Yogo Wibowo

 

2 Replies to “Pentingnya Khat dalam Peradaban Islam”

Tinggalkan Komentar