KH. Muhammad Yahya

KH. Muhammad Yahya atau Kiai Yahya dilahirkan pada tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, kabupaten Malang, Jawa Timur. Kiai Yahya memiliki darah keturunan Jawa Tengah, karena ayahanda beliau Kyai Qoribun dan ibunda Nyai Sarmi adalah penduduk asli Juwana. Dari pernikahan Kyai Qoribun dan Nyai Sarmi itulah Kyai Yahya dilahirkan sebagai anak ke empat dari tujuh bersaudara. KH. Muhammad Yahya sejak kecil sudah diajarkan ilmu agama melalui pendidikan keluarga dengan tradisi khas ala pesantren. Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar keagamaan yang diasuh oleh paman beliau sendiri yaitu Kyai Abdullah yang juga salah satu mursyid thoriqoh. Di surau pesantren pamannya inilah beliau mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah, dan etika agama maupun ilmu akhlaq. Penguatan dasar agama dimasa kecil ini menjadikan beliau kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip serta memperoleh kemudahan dalam mengembangkan ilmu.

KH. Muhammad Yahya merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Miftahul Huda atau yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Pesantren Gadingkasri Malang. KH. Muhammad Yahya melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis putri angkat KH. Isma’il yang bernama Siti Khodijah. Dari pernikahannya tersebut, beliau dikaruniai 11 orang putra-putri. Sebagian besar dari mereka menjadi ulama, sedangkan putrinya dipersunting oleh Kiai, ada juga yang menjadi dosen di Universitas Negeri Malang, serta ada yang menjadi ketua MUI Kota Malang. Berikut ini merupakan nama-nama putra-putri beliau:

  1. KH. A. Dimyati Ayatullah Yahya (1936 – 1971)
  2. KH. Abdul Adzim Amrullah Yahya (1938 – 2003)
  3. Gus Abdulloh (Lahir 1940) meninggal waktu kecil.
  4. KH. Abdur Rochim Amrullah Yahya (1942 – 2010)
  5. KH. Abdur Rohman Yahya (Lahir 1945)
  6. KH. Ahmad Arif Yahya (Lahir 1948)
  7. Nyai Khodijah (Lahir 1950)
  8. KH. Muhammad Ghozali Yahya (Lahir 1952)
  9. Nyai Hj. Fatimah (Lahir 1955)
  10. Nyai Hj. Maryam Mashrifiyah (Lahir 1958)
  11. Nyai Hj. Dewi Aisyah (Lahir 1962)

KH. Muhammad Yahya mengembuskan nafas terakhir pada usia 71 tahun, pada tanggal 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M. As Syauqi dalam syairnya pernah berkata: “manusia dilahirkan dalam keadaan menangis dan orang disekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya, maka seharusnya pada saat ia meninggal maka yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum dan orang disekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya”. Syair inilah yang menggambarkan kepergian seorang ulama pengasuh umat, almukarrom KH. M Yahya, 36 tahun yang lalu. 

KH. Muhammad Yahya merupakan sosok ulama sufi yang telah begitu banyak berjuang bahkan ketika sosoknya tak lagi ada. Tetapi ajaran, wasiat dan nasehat beliau akan terus dikenang dan dijalankan oleh semua murid-murid dan keluarga beliau. Almukarrom adalah sosok ulama yang selalu menekankan belajar (mengaji) dan belajar, tidak peduli ia anak kyai atau anak orang biasa, agar dalam hidup ini kita bisa berhasil, karena belajar adalah fitrah kita sebagai manusia sebagaimana ayat yang pertama kali turun yaitu pada surah al-‘Alaq. Allah SWT menerangkan bahwa manusia diciptakan dari benda yang tidak berharga kemudian memuliakannya dengan cara belajar membaca, menulis dan memberi pengetahuan.

Kritik dan saran terkait Mading ASC dapat ditulis Disini

Departemen Syiar

Tinggalkan Komentar