Jangan Memakan Bangkai Saudaramu Sendiri

Manusia adalah makhluk lemah yang memilki nafsu begitu besar. Apabila kita tidak mampu meletakkan pada tempat yang semestinya akan mendatangkan dosa besar. Salah satu kebiasaan yang mampu mendatangkan dosa adalah mengghibah, dimana secara tidak langsung telah menunjukkan jika si pelaku ghibah seolah terlihat lebih baik dari orang yang mereka ghibahkan. Ghibah bisa muncul karena adanya rasa iri, kecewa, atau dengki. Dalam hal ini, wanita lebih rentan diliputi iri dan kurang suka dirinya merasa tersaingi. Tapi, Sobat Qur’ani tahu tidak jika Allah mengibaratkan ghibah dengan perbuatan memakan daging saudara kita yang telah mati?

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” Q.S. Al-Hujurat: 12).

Salah satu bagian tubuh manusia yang paling menjerumuskan manusia ke dalam kemaksiatan adalah lisan. Lalu bagaimana cara bertaubat dari itu? Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, orang yang telah berbuat ghibah tidak harus mengumumkan taubatnya. Cukup baginya memintakan ampun bagi orang yang dighibahi dan menyebutkan segala kebaikannya di tempat-tempat mana dia mengghibahinya. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah dalam kitabnya Nashihati lin Nisa’ (hlm. 31).

Kritik dan saran terkait Mading ASC dapat ditulis Disini
Daftar jadi member slot gacor hanya di Viralslot77 bonus berlimpah.

Departemen Syiar

Tinggalkan Komentar