Amal Kebaikan Sehari-hari dengan Membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang wajib kita imani. Al-Qur’an diturunkan kepada nabi dan rasul-Nya, yaitu Muhammad SAW dengan tujuan supaya dijadikan petunjuk oleh manusia dalam mengarungi kehidupan ini. Dalam hal ini, Allah SWT menegaskan di dalam al-Qur’an:

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِيْ وَخَافَ وَعِيْدِ

Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim [14]:1).

Diturunkannya al-Qur’an adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Gelap gulita pada ayat tadi dapat dimaknai sebagai kebodohan. Sedang cahaya terang benderang dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang benar. Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad dengan membawa tujuan supaya manusia belajar kepada al-Qur’an untuk menghapus kebodohan yang membuat dirinya laksana hidup dalam gelap gulita. Dengan mempelajari al-Qur’an, diharapkan manusia dapat keluar dari kebodohannya dengan membawa ilmu pengetahuan yang benar, sebagaimana dikabarkan dalam al-Qur’an hingga manusia itu hidup dalam cahaya yang terang benderang.

Akibat kebodohan yang menyelimuti, manusia bertingkah laku dan bertindak secara tidak benar seperti suka menyakiti sesamanya, tidak saling tolong-menolong, tidak mau mendekatkan diri kepada Tuhannya, harta dan kekayaan yang dimilikinya hanya untuk berfoya-foya dan mencelakai orang lain, serta kebodohan-kebodohan lainnya. Dengan diturunkannya al-Qur’an, manusia seharusnya sadar bahwa dirinya berada dalam kebodohan nyata, sehingga berbuat suatu kerusakan di muka bumi ini.

Al-Qur’an menjadikan manusia memiliki pedoman hidup selama di dunia. Nabi Muhammad berpesan: “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah (hadits) nabi-Nya.” (HR. Malik).

Dengan menjadikan al-Qur’an sebagai bacaan sehari-hari, kita akan merasakan hikmah yang terkandung di dalamnya. Kita bisa memetik buah dari amalan membaca al-Qur’an di dunia sekaligus di akhirat kelak. Anjuran untuk membaca al-Qur’an, salah satunya terdapat pada hadits berikut: Rasulullah Saw. bersabda: “Bacalah oleh kalian al-Qur’an! Karena, ia (Al-Qur’an) akan datang pada hari kiamat kelak sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim).

Di dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Sangat jelas bahwa sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk selalu membaca dan mempelajari al-Qur’an. Tidak hanya itu, kita juga sangat dianjurkan untuk mengajarkan apa yang kita ketahui tentangnya. Membaca al-Qur’an adalah ibadah. Sebagai ibadah, kapan pun kita membacanya, kita akan mendapatkan pahala serta fadhilah dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Walaupun demikian, ada waktu yang sangat dianjurkan untuk membacanya, yaitu di malam hari. Mengenai waktu utama ini, Allah Swt. berfirman:

اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ

“Sesungguhnya, bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. al-Muzzammil [73]:6).

Pada malam hari ketika banyak orang masih tidur, atau dalam keadaan masih sunyi dan sepi, akan membuat kita lebih khusyuk dan tenang dalam membaca al-Qur’an. Sehingga, makna yang terkandung di dalamnya akan lebih berkesan dan mudah membekas dalam hati. Oleh karena itu, upayakan untuk selalu bangun malam, kemudian shalat malam dan membaca al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١) قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤)

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan, bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”(QS.al-Muzzammil [73]: 1-4).

Sementara itu, pada saat membaca al-Qur’an kita dianjurkan untuk membacanya dengan suara terbaik yang kita miliki. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda: “Hiasilah al-Qur’an itu dengan suaramu.” (HR. Muslim).

Al-Qur’an itu indah, dan akan menjadi semakin berkesan apabila kita membacanya dengan suara yang bagus. Sebab, suara yang bagus adalah hiasan al-Qur’an. Meski demikian, bukan berarti orang yang tidak memiliki suara yang bagus lantas tidak boleh membaca al-Qur’an. Sebab, maksud dari hadits tadi adalah kita hendaknya berupaya untuk membaca al-Qur’an dengan nada dan suara yang paling bagus. Meski masih terdengar jelek, namun itu yang terbaik. Rasulullah SAW dalam hadis yang lain menerangkan: “Sesungguhnya, suara yang baik itu menambah al-Qur’an menjadi baik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i). Jadi, ketika membaca al-Qur’an, gunakan suara yang menurut kita paling baik.

Lazimnya membaca al-Qur’an dengan suara yang bagus tidak hanya akan berkesan pada si pembaca, melainkan juga bagi orang-orang yang mendengarnya. Sehingga, jika si pendengar mendapatkan hikmah dari al-Qur’an yang dibaca dengan suara yang bagus, maka si pembaca akan mendapatkan pahala tambahan karena telah menjadi sebab orang lain mendapatkan hikmah dari al-Qur’an yang dibacanya dengan suara yang bagus. Di samping itu, hendaknya kita membaca al-Qur’an dengan perlahan-lahan sambil meresapi dan menikmati makna yang terkandung di dalam ayat yang kita baca. Dalam hal ini, Allah Swt. berfirman: “Dan, bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. al-Muzzammil [73]: 4).

Membaca al-Qur’an tidak perlu terburu-buru. Bacalah dengan suara yang merdu, bagus, dan perlahan-lahan. Resapi hikmah dan maknanya. Jika kita tidak mengetahui maknanya, maka resapilah kebaikan-kebaikan yang terkandung di dalam bacaannya.

Referensi:

Hasanah, Wardah. 2015. Menanamlah di Dunia, Petiklah di Akhirat. Yogyakarta: Safirah

Kritik dan saran terkait Mading ASC dapat ditulis Disini

Departemen Syiar

Tinggalkan Komentar