Pentingnya Membaca Al-Qur’an dengan Tartil

Setiap yang membaca Al-Qur’an akan mendapat pahala meskipun satu huruf. Membaca Al-Qur’an pun harus dijaga adabnya agar tidak asal membaca. Karena Al-Qur’an bukan sekedar kitab biasa, namun kitab pedoman hidup yang merupakan mukjizat dari Rasulullah SAW. Jika membaca satu huruf dari Al-Qur’an saja mendapat pahala, lantas bagaimana dengan membaca dalam satu kalimat dan berlembar-lembar? Apalagi kalau berusaha untuk menghafalkan? Maka akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

Dikutip dari Jurnal yang berjudul Kualitas Pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Tartil di TPQ Sabilun Najah Sambiroto Taman Sidoarjo oleh Khalimatus Sa’diah (2013:286) pembelajaran Al-Qur’an dengan metode tartil sangat efektif dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an santri di TPQ Sabilun Najah dengan indikator santri mampu membaca Al-Qur’an dengan benar dan santri mampu merasakan dan berhenti membaca ketika salah dalam membaca Al-Qur’an. Adapun surat Al-Muzzammil ayat ke-4 mendukung bahwa membaca Al-Quran dengan pelan.

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Artinya : “Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan.”

Tartil adalah membaca Al-Qur’an dengan jelas dan tidak terburu-buru atau membaca dengan tartil dan makhorijul huruf yang benar. Penelitian jurnal tersebut membuktikan bahwa metode sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran membaca Al-Qur’an, terutama metode tartil. Menerapkan tartil saat membaca Al-Qur’an akan membantu meningkatkan skill membaca Al-Qur’an. Dalam membaca Al-Qur’an dengan metode tartil tidak lepas dengan ilmu tajwid. Tajwid ini yang akan mengetahui kapan suatu kalimat dibaca idzhar (jelas), iqlab (membalik), idhgam (masuk), ikhfa (samar), tarqiq (tipis), tafkhim (tebal) dsb. Supaya memudahkan untuk diingat, tajwid berarti paham hukum bacaan yang panjang, pendek, mendengung, jelas dan samar. Dapat disimpulkan bahwa membaca Al-Qur’an tidak sekedar menbacanya apalagi dengan terburu-buru. Membaca Al-Qur’an dianjurkan dengan jelas, pelan dan mengetahui hukum bacaannya. Tentu membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tanpanya menghasilkan skill baca yang berbeda, begitupun pahala yang akan diperoleh.

Tinggalkan Komentar