Mengenal Makna Walisongo

Wali adalah sosok yang memiliki kelebihan, karena kedekatannya dengan Allah SWT. Wali dimanamkan juga sebagai wasilah atau perantara yang menghubungkan antara manusia dengan Allah. Untuk dapat menjadi perantara harus memiliki atau memenuhi persyaratan kedekatan dan kesucian atau menjadi orang suci. Kedekatan tersebut diperoleh melalui upaya upaya yang dilakukan seseorang dalam upaya mendekatkan diri dengan Allah lewat dzikir atau wirid. Melalui kedekatan (taqarrub) akan memunculkan aura yang disebut dengan kesucian. Walisanga atau walisongo sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa, cukup menarik jika dilihat peranannya sebagai penyebar agama dengan memadukan tradisi cultural yang masih melekat di masyarakat, sehingga dakwahnya diterima dengan baik.

Walisongo menempati posisi penting dalam masyarakat muslim di Jawa terutama di daerah tempat mereka dimakamkan. Kata Walisongo terdiri atas dua kata Wali dan Songo. Disini terlihat adanya perpaduan dua kata yang berasal dari pengaruh budaya yang berbeda. Wali berasal dari bahasa Arab (pengaruh Al-Qur’an) dan songo (pengaruh buudaya Jawa). Wali berasal dari bahasa Arab, suatu bentuk dari Waliyullah, yang berarti orang yang mencintai dan dicintai Allah SWT. Sedangkan Songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan. Dengan demikian, Walisongo berarti Wali Sembilan, yakni sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah.

Al-Qur’an Surat Yunus ayat 62 menjelaskan seorang Wali adalah orang yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah, mereka menyampaikan kebenaran dari Allah, dan dalam menyampaikan kebenaran itu karena mendapat karomah dari Allah, tiada rasa kawatir dan sedih. Keistimewaan ini sebenarnya sama dengan para rasul, yang membedakan terletak pada ada atau tidaknya wahyu yang diterima. Wali tidak menerima wahyu, dan juga tidak akan pernah menjadi Nabi atau rasul, tetapi wali mendapat karomah, suatu kemampuan diluar adat kebiasaan manusia.

Pandangan orang Jawa menyebut wali adalah orang suci, dekat dengan Tuhan, berakhlak baik, menyebarkan ajaran Islam dan dipandang memiliki kemampuan lebih dari pada orang-orang biasa. Jika demikiam, karena penyebutan ini tampaknya khas Jawa, maka Wali juga dapat dimaknai dalam sudut pandang budaya Jawa. Hal ini akan bertemu dengan konsep Sunan atau Susuhan. Kata tersebut bisa berasal dari Bahasa Arab “Sunah”, bahasa Cina “Suhu nan” juga berasal dari bahasa Jawa “Susuhunan” dan menjadi “Sunan”. Selain julukan Sunan, para Wali juga digelari Raden. Raden adalah julukan untuk keluarga raja, seperti Raden Patah dan Sunan Gunung Jati.

Menurut bahasa Jawa “Susuhunan” atau “Suhunan” artinya junjungan atau yang dijunjung tinggi. Hal ini di Yogyakarta untuk menyebut Sultan adalah Ingkang Sinuwun artinya yang dijunjung. Sebutan lain untuk menyebut para Wali adalah Panita dalam Babad Tanah Jawi, juga ada Sayt khususnya untuk Sunan Ampel. Istilah-istilah tersebut penting untuk dipahami secara komprehensif melalui budaya Jawa dalam hubungannya dengan Islam. Semoga kita dapat meneruskan perjuangan wali songo dalam mensyiarkan Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin.

Referensi: Anita, D. E. 2016. Walisongo: Mengislamkan Tanah Jawa (Suatu Kajian Pustaka). Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 1(2), 243-266.

Departemen Syiar UKM ASC

Tinggalkan Komentar