Memperindah Tulisan Basmallah

Cita dan apa yang ingin dicapai dalam seni Islam adalah keimanan kepada Allah yang bertolak dari tauhid dan dzikir. Melalui keyakinan akan keesaan Allah dan mengingat Allah, manusia akan memiliki pandangan hidup dan sikap hidup dalam melaksanakan setiap sendi kehidupannya. Baik dari segi agama, pendidikan, sosial, ekonomi, politik, kesehatan, bahkan seni. Seperti apa yang disampaikan oleh Buya Yahya, seni tanpa agama akan menjadi ngaco atau ngawur. Seni akan menjadi kendaraan manusia untuk terjerumus dalam kemaksiatan. Namun jika seni ditunutun oleh agama, maka seni akan mengantarkan manusia pada dunia spiritual yang akan mendekatkan manusia pada Sang Khaliq.

Melalui misinya yaitu mendekat kepada Allah SWT, maka para seniman muslim selalu berusaha bagaimana karyanya mampu mengingatkan umat muslim untuk selalu mengingat Allah. karena mengingat Allah merupakan esensi ibadah umat muslim baik yang berupa ibadah mahdzoh maupun ibadah goiru mahdzoh. Adapun karya-karya besar umat muslim dalam bidang seni rupa telah menyumbang peradaban dunia diantaranya adalah arsitektur, kriya, ornamen, dan yang paling terkenal adalah kaligrafi. Kaligrafi dalam agama Islam merupakan seni yang dipandang luhur. Bahkan tidak berlebihan pula jika tidak ada Islam, maka tulisan Arab tidak akan berkembang dengan begitu besar sampai-sampai begitu banyak gaya tulisan Arab lahir. Mungkin pada kaligrafi pula seni yang mampu mencapai tujuan dari berkesenian umat Islam, karena kaligrafi selalu menuliskan ayat-ayat suci Al-Quran, hadits, bahkan kata-kata mutiara.

Apabila dimisalkan, apabila seseorang menulis Basmallah dengan indah, kemudian dari tulisannya yang indah tersebut sehingga orang lain tertarik melihat atau membacanya. Maka tujuan berkesenian Islam yaitu untuk mengingat Allah telah terwujud dan tentu orang yang menulis juga akan mendapatkan pahala karena tulisannya tersebut. Mungkin tidak banyak yang mengetahui, bahwa terdapat keutamaan bagi siapa yang menulis basmallah. Dalam kitab Lubbabul Hadis bab ketiga, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan sepuluh hadis tentang fadhilah atau keutamaan bismillahirrahmanirrahim.

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ كَتَبَ بِسْمِ الله فَجَوَّدَ تَعْظِيما لله غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang menulis bismillah, lalu ia memperbagus (tulisannya) untuk mengagungkan Allah, maka dosanya (yang kecil) yang telah lalu dan yang akan datang akan diampuni.”.

Adapun redaksi hadits yang agak berbeda dengan hadits di atas, “Barang siapa yang menulis Bismillahirrahmanirrahim dan memperindahnya, dia akan masuk surga,”. Secara tidak langsung hadits ini telah menjadi salah satu motivasi kaligrafer dalam memperindah tulisannya, bahkan sebuah impian untuk dapat menulis ayat-ayat sehingga menjadi Al-Quran yang akan dibaca oleh umat Islam. Meskipun terdapat dalil-dalil lain yang memperkuat kedudukan seni kaligrafi, namun kali ini akan difokuskan pada tujuan untuk memperindah tulisan basmallah. Maka pertanyaan yang akan timbul mengapa kalimat basmallah mendapat posisi yang penting tersebut. Maka ada beberapa alasan yang mendukung mengapa posisi kalimat basmallah begitu tinggi.

Alasan pertama karena Allah Ta’ala memulai kitab suci Al-Qur’an dengan basmallah. Mungkin pernah ditemui sebuah perumpamaan bahwa inti kandungan pada Al-Quran ada pada surat Al-Fatihah, kemudian inti dari Al-Fatihah adalah kalimat basmalllah. Terlepas dari pendapat apakah basmallah termasuk dalam surat Al-fatihah atau tidak, namun keutamaannya untuk dibaca membuat kalimat ini begitu sakral. Apabila sampai terlupa maka amalannya akan berkurang keberkahannya, sehingga tidak boleh terlupa untuk dibaca meskipun sirr (pelan atau berbisik). Adapun hadits yang mengungkapkan alasan kalimat basmallah dibaca pada setiap awal surat.

وقَالَ صلى الله عليه وسلم: {إنَّ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى زَيَّنَ السَّمَاءَ بِالكَوَاكِب وَزَيَّنَ المَلائِكَةَ بِجِبْرِيلَ وَزَيَّنَ الجَنَّةَ بِالحُورِ وَالقُصُورِ، وَزَيَّنَ الأنْبِيَاءَ بِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، وَزَيَّنَ الأيّامَ بِيَوْمِ الجُمُعَةِ، وَزَيَّنَ اللَّيَالِي بِلَيْلَةِ القَدْرِ، وَزَيَّنَ الشُّهُورَ بِشَهْرِ رَمَضَانَ، وَزَيَّنَ المساجدَ بالكَعْبَةِ، وَزَيَّنَ الكُتُبَ بِالقُرْآنِ، وَزَيَّنَ القُرْآنَ بِبِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ }.

Nabi saw. bersabda, “Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala menghias langit dengan benda-benda langit (matahari, bulan, dan bintang-bintang) dan menghias malaikat dengan Jibril, menghias surga dengan bidadari dan istana-istana, menghias para nabi dengan nabi Muhammad saw., menghias hari-hari dengan hari Jum’at, menghias malam-malam dengan lailatul qadar, menghiasi (di antara) bulan-bulan dengan bulan Ramadhan, menghias masjid-masjid dengan Ka’bah, menghias kitab-kitab dengan Al-Qur’an, dan menghias Al-Qur’an dengan bismillahirrahmanirrahim.”

Alasan kedua yaitu para nabi yang juga menggunakan kalimat basmallah untuk mengawali suratnya. Nabi kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai suratnya pada Raja Heraklius dengan basmallah. Masih ingat pula dengan kisah nabi Sulaiman AS yang diberitahu oleh seekor burung bahwa terdapat sebuah kerajaan bernama Saba’ yang menyembah matahari. Maka dari itu nabi Sulaiman AS menulis surat pada penguasa Saba’ dengan basmallah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 30)

Alasan ketiga adalah keutamaan membacanya saat akan melakukan berbagai aktivitas. Kebanyakan ulama tetap menganjurkan membaca basmallah untuk perkara yang penting. Adapun amalan tersebut dilakukan agar setiap yang kita lakukan mendapat keberkahan, terhindar dari perbuatan yang tidak bermanfaat, atau bahkan terhindar dari murka Allah, karena semua kegiatan yang kita lakukan akan mendapat ridho Allah SWT karena kita terus mengingat Allah. Hal tersebut terwujud dari doa yang kita lakukan setiap hari, baik sebelum dan sesudah tidur, sebelum dan sesudah masuk ke kamar mandi, sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah sholat, bahkan doa-doa yang lain yang selalu diawali dengan basmallah.

Alasan keempat yang dikhususkan untuk para pembelajar kaligrafi, yaitu makna yang terkandung dalam kalimat basmallah itu sendiri. Kalimat ini mencangkup dua sifat Allah SWT yang sangat agung yaitu pengasih dan penyayang. Secara tidak langsung pendidikan karakter tertera pada tulisan yang mereka tulis. Sebuah pesan untuk saling menyayangi sesama makhluk Allah, sebagaimana dikatakan “Jika kamu menyayangi makhluk Allah yang lain, maka Allah juga akan menyayangimu,”. Karakter ini pula yang akan membawa esensi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Sifat ini merupakan asmaul husna yang pertama dan kedua yang menandakan bahwa semua bentuk kehidupan di dunia ini bahkan alam semesta ini adalah dari sifat rahman dan rahim tersebut. Terjaganya alam ini juga karena sifat tersebut, tanpa adanya sifat tersebut alam akan hancur sebagaimana manusia yang menghancurkan alam secara tidak sadar karena tidak adanya sikap penyayang terhadap makhluk ciptaan Allah.

Demikian tadi paparan keutamaan dalam memperindah tulisan basmallah dan esensinya dalam kehidupan sehari-hari. Maka perlunya kembali mengingat Allah akan sifat rahman dan rahim-Nya sehingga terbentuklah sikap hidup dan pandangan hidup untuk tidak menindas ataupun menghancurkan makhluk ciptaan Allah. adapun pada akhir tulisan ini akan ditampilkan karya-karya kaligrafi yang bertuliskan basmallah dari para khattat. (Ryan Yogo Wibowo)

Karya Muhammad Syauqi Afandi
Karya Amzil
Karya Miftahul Huda
Karya Mothana
Karya Ismail Zuhdi
Karya Hafidz Utsman
Karya Hamdullah Al-Amasy
Karya Sirwan Barzanji
Karya Nuriya Gracia
Karya Seyit Ahmed Depeler
Karya Yakut Al-Musta’simi
Karya Ayten Tiryaki
Karya Muhammad Nadhif
Karya Kamil Akdik
Karya Levent Karaduman
Karya Hasyim Muhammad Al-Baghdadi
Karya Hasan Ridho
Karya Mustafa Parildar
Karya Muhammad Hulusi
Karya Ugur Derman
Karya Shahriyanshah
Karya Mustafa Raqim
Karya M. Abdul Aziz Ar-Rifa’i
Karya Abbas Baghdadi
Karya Dawud Bectas
Karya Khudair Al-Bursaidi
Karya Usman Toha
Karya Haki Aytac
Karya Hamid Al-Amidi
Karya Umar Wasfi
Karya Sami Afandi

 

Karya Shobah Al-Arbili
Karya Muhammad Ozcay
Karya Fatih Ozkafa
Karya Huda Purnawadi
Karya Mustafa Halim
Karya Hasan Celebi
Karya Macid Al-Ayral
Karya Yilmazturan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya Muhtar Alim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rujukan:

Hasanah, A. N. 2019. Hadis-hadis Keutamaan Bismillaahirrahmaanirrahiim—Bincang Syariah. BincangSyariah | Portal Islam Rahmatan lil Alamin. https://bincangsyariah.com/kalam/hadis-hadis-keutamaan-bismillaahirrahmaanirrahiim/. diakses pada 14 maret.

Tuasikal, M. A., & MSc. 2016. Mulailah dengan Bismillah. Rumaysho.Com. https://rumaysho.com/14810-mulailah-dengan-bismillah.html. diakses pada 14 maret.

Tinggalkan Komentar