Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim (Wali Penyebar Islam Pertama di Tanah Jawa)

Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah salah satu “Wali Songo” penyebar agama Islam di nusantara, khususnya di Pulau Jawa. beliau merupakan seorang Imam termasyhur berasal dari Arabia, keturunan Zaenal Abidin dan sepupu Raja Chermen yang menetap bersama Mahomedans (orang-orang Islam) di Desa Leran Jenggala. Sementara itu berdasarkan prasasti makam Syekh Maulana Malik Ibrahim disebutkan bahwa beliau berasal dari Kashan (bi Kashan), sebuah tempat di Persia (Iran) (Sunyoto, 2016). Syekh Maulana Malik Ibrahim juga merupakan salah seorang tokoh penyebar agama Islam pertama di tanah Jawa dan merupakan wali tertua di antara “Wali Songo” lainnya (Drewes, 1968).

Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan seorang ahli tata negara berpengalaman. Beliau datang ke pulau Jawa pada tahun 1404 M. Jauh sebelum beliau datang, Islam sudah ada di nusantara walaupun sedikit, hal ini dibuktikan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun yang nisannya bertuliskan tahun 1082 (Saputra, 2019).

Metode dakwah yang dilakukan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam proses Islamisasi Gresik pada abad ke-14 M yang tercatat dalam Babad Gresik I meliputi dua metode yaitu, (1) Metode dakwah melalui jalur perdagangan dan (2) Metode dakwah melalui pendidikan pesantren, sebagaimana ulasan sebagai berikut ini:

  • Metode Dakwah Perdagangan

Syekh Maulana Malik Ibrahim sejak kecil sudah memperoleh pendidikan agama Islam. Setelah dewasa beliau mendapatkan amanat untuk menyiarkan agama Islam sambil berdagang. Di sekitar wilayah Gresik, Syaikh Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan agama Islam dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucinan, Leran, Manyar. Aktifitas yang mula-mula dilakukan Syaikh Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang di tempat terbuka dekat pelabuhan yang disebut Desa Rumo-saat ini disebut dengan Desa Roomo, yang menurut cerita setempat berkaitan dengan kata Rum (Persia), yaitu tempat kediaman orang Rum di sekitar pesisir Gresik (Sunyoto, 2016).

Kedatangan Syaikh Maulana Malik Ibrahim untuk berdagang dan mendakwahkan agama Islam disampaikan dalam Babad Gresik I, yang mengungkapkan bahwa “Syekh Maulana Malik Ibrahim menyebarkan agama Islam sambil berdagang agar tidak terlalu menyolok dan mampu diterima oleh masyarakat Gresik, kemudian rombongan ini menghadap Raja Majapahit Prabu Brawijaya tetapi beliau belum berkenan masuk agama Islam.” (Soekarman, 1990)

Berdasarkan ungkapan di atas, maka dapat diketahui bahwa awal dakwah Syekh Maulana Malik Ibrahim dimulai dengan media perdagangan. Hal tersebut menandakan kearifan yang dimiliki oleh beliau dalam hal bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Mengingat sebelumnya masyarakat Gresik masih menganut kepercayaan agama Hindu dan Buddha di bawah Kerajaan Majapahit pada kepemimpinan Raja Brawijaya terakhir.

Ketika berdagang tersebut, Syekh Maulana Malik Ibrahim justru menunjukkan kemahiran dan kebijaksanaan beliau dalam dunia perdagangan. Hal tersebut pada akhirnya mengundang simpati dari masyarakat sekitar dan Raja Majapahit hingga beliau diangkat menjadi kepala pelabuhan yang dikenal dengan sebutan “Syahbandar”. Melalui kekuasaan yang diberikan oleh Raja Majapahit tersebut, maka Syekh Maulana Malik Ibrahim diizinkan menyebarkan agama Islam di wilayah kerajaan Majapahit (Firdausy et al., 2019).

  • Metode Dakwah melalui  Pendidikan Pesantren

Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan ulama pertama yang membangun pesantren sebagai model pendidikan Islam, dengan mengadaptasi bentuk pendidikan biara dan asrama yang dipakai oleh pendeta dan biksu terkait proses belajar mengajar dalam agama Buddha. Syekh Maulana Malik Ibrahim membuka pendidikan pesantren di Desa Gapura untuk mendidik kader-kader pemimpin umat dan penyebar Islam kepada masyarakat di wilayah Majapahit yang sedang mengalami kemerosotan akibat perang saudara (Sunyoto, 2016). Oleh karena itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim dijuluki sebagai ulama pionir yang menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan menggunakan metode pendidikan pesantren (Firdausy et al., 2019).

Sumber:

Drewes, G. W. J. (1968) ‘New light on the coming of Islam to Indonesia?’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 124. doi: 10.1163/22134379-90002862.

Firdausy, S. W. el et al. (2019) ‘Kiprah Syaikh Maulana Malik Ibrahim pada Islamisasi Gresik Abad ke-14 M dalam Babad Gresik I’, SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 1(1), pp. 1–10. doi: 10.15642/suluk.2019.1.1.1-10.

Saputra, F. F. N. (2019) ‘Metode Dakwah Wali Songo dalam Penyebaran Islam di Jawa dalam Buku Atlas Wali Songo Karya Agus Sunyoto dan Relevansinya dengan Materi SKI Kelas IX’, p. 88.

Sunyoto, A. (2016) Atlas Wali Songo: buku pertama yang mengungkap Wali Songo sebagai fakta sejarah. Tanggerang: Pustaka IIMaN.

Departemen Syiar UKM ASC

Tinggalkan Komentar