Ketika Dia Mengalihkanmu Dari DIA

Akhir-akhir ini senyuman tidak pernah luput dari wajahmu. Semua aktivitas kau lakukan dengan ceria dan tanpa beban, seolah ada suntikan semangat setiap detiknya. Telepon pintar itu juga tak pernah terlepas dari tanganmu. Jemarimu dengan lihai mengetik abjad-abjad di keyboard aplikasi chat itu. Ternyata itulah sumber dari bahagiamu dari beberapa waktu yang lalu.

“Jangan lupa makan ya, nanti sakit loh”, “Gimana harinya? Ada cerita apa hari ini?” “Hey bangun, waktunya tahajud!”, “Besok bangunin aku sahur ya J”. Begitulah kiranya isi percakapan yang kalian lakukan tiap harinya. Kalian merasa ini hal baik, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling berhubungan untuk mendapatkan ridho Allah Swt. Namun faktanya, definisi bersama dalam ketaatan tidak seperti itu, Sobat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) imam (pemimpin) yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allâh.’ (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Dalam hadis di atas, dijelaskan bahwa salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari akhir adalah dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya. Dua orang yang dimaksud di sini adalah mereka yang berteman karena Allah. Sehingga teman yang dipilih adalah karena tertarik pada keshalihannya, pertemanan yang dibangun di atas iman sampai maut menjemput, bukan tertarik karena hal yang bersifat dunia seperti harta, tahta, atau nafsu lahiriah seorang individu kepada lawan jenisnya,

Hal umum yang terjadi saat ini adalah dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan yang katanya berlandaskan keimanan, namun faktanya jauh dari orientasi taqwa kepada Allah Swt. Entah disadari atau tidak, hubungan seperti ini melahirkan lupa dan luka. Lupa terhadap perintah Allah yang melarang kita mendekati zina, serta luka yang tak jarang menyertai suatu hubungan yang fana dan tidak terikat oleh ridho Yang Maha Kuasa.

Tentunya kita bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang salah. Alangkah baiknya kita juga menentukan sikap tegas terhadap diri sendiri ketika mengetahui bahwa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan.  Allah melarang karena Dia sayang. Dan kasih sayangnya tidak akan mampu ditandingi oleh dia-mu yang kau bangga-banggakan. Stay halal until akad ya, Sobat!

Kritik dan saran terkait Mading ASC dapat ditulis Disini

Departemen Syiar

Tinggalkan Komentar