Keikhlasan dan Kesabaran

Sabar itu memang tanpa akhir. Sabar harus disertai keikhlasan saat menerima suatu takdir. Berbagai takdir dan tantangan dalam hidup harus disertai dengan kesabaran jika hasil akhirnya belum sesuai harapan padahal sudah melakukan ikhtiar maksimal. Kemudian ikhlas menerima ketentuan tersebut. Dalam ajaran Islam, terdapat keutamaan sikap sabar yang bisa didapatkan oleh orang yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dimana Allah akan memberikan kemuliaan bagi hamba-Nya yang dapat menghadapi setiap ujian dengan penuh kesabaran. Bukan hanya itu, sikap sabar juga dapat mendorong setiap orang untuk terus bertawakal kepada Allah, berusaha dan berserah diri hanya kepada Allah.

Dalam Islam, seperti dikutip dari buku Ikhlas karya Dr. Umar Sulaiman al-Asygar bahwa ikhlas merupakan satu-satunya tujuan ibadah. Ikhlas adalah ajaran yang menjadi dasar diutusnya semua rasul Allah SWT. Ikhlas adalah inti dakwah para rasul. Para ulama mendefinisikan ikhlas sebagai seluruh ibadah yang diniatkan kepada Allah SWT bukan yang lain. Al Raghib dalam kitabnya Mufradat mengatakan ikhlas adalah menyingkirkan segala sesuatu selain Allah SWT. Sahl ibn Abdullah mengemukakan ikhlas adalah menjadikan seluruh gerak dan diam hanya untuk Allah SWT.

Ada kalanya sesuatu yang diinginkan tidak tercapai, karena diluar batas kemampuan. Manusia bukanlah tanpa cela, jauh dari kesempurnaan karena bukan Malaikat yang selalu benar karena melakukan apa pun atas petunjuk dari langit. Manusia itu adakalanya mendapatkan ujian dari Sang Pencipta. Ujian tersebut tidak selalu berujung pada keberhasilan mengatasinya, terkadang hasil akhirnya tidak sesuai harapan. Saat itulah sabar dan ikhlas menerima ketentuan Sang Pencipta menjadi suatu keharusan.

Sabar dan ikhlas itu bukan pasrah pada keadaan. Akan tetapi, menerima ketentuan Allah SWT bahwa Sang Mencipta belum mengizinkan kita untuk meraihnya karena dianggap belum siap atau belum saatnya mendapatkan keberhasilan tersebut. Allah SWT Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, sehingga setiap manusia harus berbaik sangka atas segala keputusan-Nya. Pada QS. Az-Zumar ayat 10, Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar 39:10).

Jika seseorang mendapatkan suatu takdir atau gagal dalam suatu hal, ikhtiar harus terus kembali dilakukan dengan memperbaiki cara melakukannya. Sebatas apa yang kita lakukan itu benar. Takdir atau kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda, sehingga sabar dan ikhlas adalah bagian dari siklus penutup setelah takdir atau kegagalan yang Allah SWT ujikan kepada setiap hamba-Nya.

Hal yang perlu diingat bahwa, Allah SWT memberikan otak yang sangat sempurna, akal dan pikiran, serta hati nurani. Maksimalkan potensi itu untuk melakukan yang terbaik pada setiap pilihan hidup kita. Masalah hasil, serahkan pada Sang Penentu yaitu Allah SWT. Jika hasil akhirnya tidak sesuai harapan, maka itulah takdir yang harus dijalani sebagai cobaan hidup. Bijaklah menerimanya, jalani dengan kesabaran dan keikhlasan. Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar dan ikhlas dalam menerima ketentuan-Nya.

Kritik dan saran terkait Mading ASC dapat ditulis Disini

Departemen Syiar

Tinggalkan Komentar