Dambaan Hati Pergi Tidaklah Berarti Asalkan Allah Selalu Di Sisi

Malam berkabut mengingatkanku kepada seseorang di stasiun kala itu. Dia yang polos dan menawan bertanya tentang maksud kode yang ada pada tiketnya. Aku pun menjawab tanpa mengetahui bahwa ternyata dia juga ingin memecahkan kode hatiku. Sampai akhirnya dia memberiku selembar kertas untuk menuliskan nomor handphoneku dan entah kenapa aku pun tak tega menolak ketampanannya untuk mendapatkan hatiku kala itu. Sebulan dua bulan kami lalui dengan bertukar pesan melalui WhatsApp. Bulan ketiga mengukirkan kegembiraan sesaat pada hati kecilku, menetapkan kejadian yang takkan pernah kuulangi lagi dalam hidupku, yaitu Pacaran. Tahu kenapa aku menghighlight kata pacaran? Karena aku tak ingin kalian semua bernasib sama denganku.

Singkat cerita aku menerima tawarannya mengajakku untuk berpacaran. Malam berlalu dan hari berganti pagi. Menjelang hari pernikahan kami, si tampan bertingkah aneh, mulai dari jarang chatting-an denganku ketika malam, senyum-senyum sendiri saat melihat handphonenya, dan bahkan sering lupa atau tidak menepati janjinya. Konflik bermula, handphone canggih dan berpulsa banyak milikku tidak dapat menghubunginya. Rasa khawatir dan suudzon bercampur aduk. Air mata mulai berjatuhan mengingat kenangan indah yang pernah kami lalui bersama. Malam berwangi mimpi dan khayal menjadi malam retorika jiwa yang menyesal.

Satu bulan berlalu tanpa dirinya, kini tak menjadi masalah bagiku. Aku yang telah sadar mengenai perbuatanku yang salah, kini menjadi seorang santriwati bertajuk Al-Qur’an yang mulia. Senyum penyesalan sesekali nampak dikala belajar Tafsir Al-Qur’an. Aku yang pada akhirnya tahu bahwa Allah melarang orang-orang beriman mendekati zina, bertekad merubah diriku agar tidak terjerumus lagi dengan langkah awal berupa ghaddul bashar (menundukkan pandangan). “Bermainlah dengan api, jika ingin terbakar. Bermainlah dengan perasaan, jika ingin merasakan rasa sakit”. Sungguh besar kuasa Allah, Dia lah yang menghidupkanku dan Dia juga yang menjauhkanku dari perkara buruk.

Kumulai lembaran baru bertetes tinta biru, agar hatiku senantiasa dingin menghadapi cobaan yang tak pernah bergeming. Mendung kan hilang, cerah yang akan datang, duka akan pergi. Kini kutahu bahwa seseorang harus melewati rintangan dan cobaan yang pahit untuk menemukan jalan yang indah. Maka teman, perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan resapi makna yang ada di dalamnya. Sehingga engkau mengerti arti kehidupan sesungguhnya dan menjalani kehidupan fana di dunia dengan damai. Tak satupun kalimatku dapat menjelaskan cinta Ilahi. Namun semua makhluk tak dapat berhenti membicarakannya. Jangan diam, jangan juga banyak tingkah, ambil tengahnya saja. Jalani hidup dengan bahagia, ridha dengan takdir dari-Nya, tak perlu risau atas kesalahan yang pernah kau buat sebab ingatlah bahwa Tuhan langit dan bumi sangatlah luas ampunan-Nya.

Sub-haanaka laa ‘ilma lanaaa illaa maa ‘allamtanaa, innaka antal-‘aliimul-hakiim

Departemen Syiar UKM ASC

Tinggalkan Komentar