Cinta Kepada Rasulullah : Meneladani Akhlak dan Mengamalkan Sunnah – Sunahnya

Seberapa besar cinta kita Kepada Rasulullah?

Sekedar pernah mendengar namanya atau bahkan tidak sama sekali?

Pengenya dapat syafaat tapi kok tanggal lahirnya saja sering lupa!

Sebagai muslim yang baik, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasulullah? Seseorang yang belum pernah kita temui secara langsung. Belum pernah kita lihat wajah berserinya. Namun selalu kita harapkan syafaatnya. Lantas bagaimana cara kita cinta kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam? Seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, semestinya dia selalu berusaha untuk mengikuti dan menerapkan perilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari. Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi pernah berkata:

“Ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.”

Dengan melihat keterangan di atas sudah jelas tentang arti mencintai Rasulullah yang sebenarnya mulai dari meneladani akhlak atau budi pekerti, petunjuk, serta berusaha sekuat tenaga menjalankan dan mengamalkan sunah-sunah beliau dengan baik dengan niat mengharap Ridho Allah SWT. Mengamalkan yang baik tentu harus diimbangi dengan menjauhi hal-hal yang dibenci oleh Rasulullah. Diriwayatkan dari Tsa’labah Al Khusyaini, ia berkata, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling aku sukai dan paling dekat denganku di akhirat adalah orang yang baik akhlaknya, sedangkan orang yang aku benci dan paling jauh dari aku adalah orang buruk akhlaknya, banyak bicara, sombong, dan bicara kasar”.

Orang yang buruk akhlaknya tentu sangat bertentangan dengan Rasulullah yang memang diperintah oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang baik. Begitupun sifat-sifat lain yang dibenci oleh Rasulullah semua mempunyai madhorot yang besar dalam arti lain kemanfaatanya lebih sedikit dari pada kerusakan yang ditimbulkan. Sikap dan sifat Rasulullah yang lain digambarkan dalam untaian kata indah berjudul “Bagaimana Aku Menirumu, O Kekasihku”. Puisi yang ditulis oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengumpamakan bahwa kita dengan Rasulullah sangatlah berbeda jauh. Begitu mulianya seseorang yang diberi gelar Uswatun Hasanah bagi umat seluruh alam. Seseorang yang patut diteladani dan dicintai sampai kapanpun.

Departemen Syiar

Tinggalkan Komentar