Cerdas Bersama Al-Qur’an

Oleh : Dr. Ahmad Syafaat, S.Ag., M.Ag (Alm)

Belajar dan memahami Al-Quran selama ini identik dengan aktivitas para santri yang sedang bergelut dengan pelajaran ilmu-ilmu keislaman di pondok pesantren., sementara para pelajar dan mahasiswa seringkali dikaitkan dengan aktivitas belajar ilmu-ilmu dunia dan teknologi modern di lingkungan pendidikan formal saja. Mungkin terbilang cukup langka apabila seorang mahasiswa atau dosen mampu menghafalkan AL-Quran. Padahal apabila mengaca pada zaman sebelumnya, hampir semua ilmuan-ilmuan pengetahuan bidang filsafat, matematika, kedokteran, dan berbagai disiplin ilmu yang lain juga para penghafal Al-Quran. Seperti ilmuan Russyd, Ibnu Sina, Al Ghazali, Ar Razi dan lain-lain merupakan tokoh pemburu ilmu pengetahuan yang sangat terkenal sampai saat ini juga orang-orang yang belajar, memahami dan menghafalkan Al-Qur’an. Mereka merupakan sosok ilmuan yang komplit, menciptakan rumus-rumus kimia, matematika, fisika, menguasai ilmu astronomi, fiqih, tafsir, hadits, juga sangat mendalam.

Apa rahasianya? Ternyata memang pada saat itu terdapat tradisi yang kuat bahwa hafal dan paham Al-Quran merupakan “harga mati” yang tidak bisa ditawar lagi sebelum mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Hal ini tercermin dalam al Majmu’ karya Imam An Nawawi.  “Hal pertama (yang harus diperhatikan oleh seorang seorang peneuntut ilmu) adalah penghafal Al Quran, karena ia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadits dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran” (Beirut Dar Al Fikr 1996 Cet 166).

Oleh karena itu tidak heran ketika ada testimoni yang mengejutkan dari Dr Abdul Daiem al Kaheel dari Kuwait dalam sebuah artikel berjudul Asrar al Liaj bi Istima’ ila al Quran. 

وَيَنْبَغِىْ أَنْ يَبْدَأ مِنْ دُرُوْسِهِ عَلَى المَشَايِخِ: وَفِي الحِفْظِ وَالتِّكْرَارِ وَالمُطَالَعَةِ بِالْأَهَمِّ فَالْأهَمُّ: وَأوَّلُ مَا يَبْتَدِئُ بِهِ حِفْظُ الْقُرْآنِ الْعَزِيْزِ فَهُوَ أَهَمُّ العُلُوْمِ وَكَانَ السَّلَفُ لاَ يَعْلَمُوْنَ الْحَدِيْثَ وَالفِقْهَ إلاَّ لِمَنْ حَفِظَ الْقُرْآنَ

“Dapat saya informasikan pada para pembaca yang terhormat, bahwa mendengarkan ayat Al Quran secara kontinyu akan menambah kemampuan berinovasi sebagaimana yang telah terjadi pada diri saya. Sebelum hafal Al Quran saya masih ingat, saya kesulitan menulis satu kalimat dengan baik dan benar, sementara sekarang saya mampu menulis karya ilmiah hanya dalam kurun waktu satu sampai dua hari saja”.

Ir. Kaheel mengatakan bahwa membaca Al Quran mengamalkan isinya serta menjalankan perintah dan menjauhi larangan ayat terdapat di dalamnya merupakan suatu aktifitas yang terbaik dapat dilakukan oleh seorang muslim. Al Quran juga dapat mempengaruhi kepriibadian dan watak seorang manusia karena setiap buku yang dibaca oleh seorang akan mempengaruhi sikap hidup dan kepribadian mereka. Kepribadian merupakan produk dari wawasan dan pengalaman dari apa yang telah ia baca, lihat dan dengarkan.

Apabila sebuah buku karangan manusia saja bisa memberikan pengaruh pada sikap sedemikian rupa, apalagi jika buku itu dikarang langsung oleh Pencipta alam semesta semacam Al Quran. Al Quran menceritakan apa yang telah dan akan terjadi serta mengungkap segala kebutuhan manusia dunia akhirat. Sebagaimana firman Allah pada QS. Fussilat: 42

لَّا یَاۡتِیۡہِ الۡبَاطِلُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ لَا مِنۡ خَلۡفِہٖ ؕ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ حَکِیۡمٍ حَمِیۡدٍ

Artinya: “(yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dan belakang (pada masa lalu dan yang akan datang), yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji.” (Fussilat: 42)

Sebagai contoh, Ir Kaheel merasa sering susah ketika menghadapi masalah sampai usia 42 tahun. Namun setelah mendalami makna dari QS Al-Baqarah: 216.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Artinya: “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Beliau merasa ada perubahan dalam menyikapi masalah serta lebih tenang dalam menghadapinya, seakan beliau berubah 180 derajat dari kondisi sebelumnya. Bersama Al Quran kita akan raih prestasi gemilang. Otak kita akan menjadi cerdas dan berisi, kita mewujudkan mimpi indah yang telah lama ditunggu-tunggu untuk menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat.

Al Quran adalah sebuah kisah yang sempurna dan mengandung berbagai aspek kehidupan manusia baik hubungannya dengan Allah atau pun hubungan sesama manusia. Di dalam Al Quran terdapat segala sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam perjalanannya menuju kebahagiaan yang diinginkan (Amanah, St. 1994: 139).itulah kiranya jika kita membaca, menghayati, menghafal, dan mengamalkan Al Quran akan menjadi seorang manusia yang kamil., sempurna serta memiliki pandangan yang luas dalam bertindak dan berperilaku berdasarkan Al Quran. (ditulis kembali oleh Anita Putri Rahayu)

Tinggalkan Komentar