Berpura-pura Mengejar Akhirat

Munafik dikenal sebagai seseorang yang berpura-pura. Di masa kenabian, orang-orang tersebut mengaku Islam dan mengikuti Rasulullah saw. namun menyembunyikan kekafiran dan permusuhannya terhadap Islam. Pada surah Al-Baqarah ayat 8 berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”

Pada hal ini, munafik disematkan pada orang Islam yang kerap berbohong, malas menjalankan ibadah (terutama ibadah wajib), serta memandang sepele ajaran Islam. Orang munafik diancam dengan balasan neraka di tingkat paling bawah, dibenci Allah Swt. serta di akhirat akan dipisahkan dari golongan orang-orang beriman.

Coba tanyakan pada diri sendiri, jangan-jangan kita sendiri yang berpura-pura mengejar akhirat. Penuh semangat berdiri untuk shalat malam namun, hanya berharap jodoh dan karir yang melesat hingga lupa mengharapkan ampunan dari-Nya. Penuh semangat mengucapkan shalawat dengan harapan semua benda-benda dalam bayangan bisa didapat. Seolah shalawat hanya seharga balasan dunia. Padahal, itu adalah bentuk kerinduan, dengannya kita berharap syafaat sang kekasih Allah. Tidakkah kita takut balasan ibadah kita Allah segerakan di dunia hingga tak tersisa lagi balasan di akhirat kelak? Naudzubillah min dzalik.

Kritik dan saran terkait Mading ASC dapat ditulis Disini

Departemen Syiar

Tinggalkan Komentar