Aspek Penting Tim Syarhil Qur’an Masa Kini

Seiring berjalannya waktu, dakwah Syarhil Qur’an semakin menyebar luas. Pertama kali diadakan dalam gelaran MTQ Nasional XV di Bandar Lampung tahun 1988. Kini Musabaqah Syarhil Qur’an sudah semakin populer dan terjadi banyak perkembangan. Pada gelaran MTQ Nasional yang diadakan oleh LPTQ Nasional, Syarhil Qur’an awalnya diikuti oleh peserta yang notabenenya sudah dewasa dan bisa disebut pendakwah kondang. Namun, kini Syarhil Qur’an pada gelaran MTQ yang diadakan LPTQ dibatasi dengan umur maksimal 18 tahun 11 bulan 29 hari.

Musabaqah Syarhil Qur’an adalah salah satu cabang musabaqah yang memiliki tantangan dan kekhasan tersendiri. Dikarenakan harus adanya keterpaduan dan kekompakan dari tiga aspek, yakni pensyarah (penyampai materi), qori’/qori’ah (pembaca ayat al-Qur’an), dan juga sari tilawah (penerjemah ayat al-Qur’an). Tantangan dalam Syarhil Qur’an pun seiring berjalannya waktu berubah.

Dahulu setiap peserta membuat teksnya masing-masing ketika perlombaan (musabaqah) akan dimulai. Namun tantangan Syarhil Qur’an masa kini bergeser untuk dapat membentuk tim yang kompak, solid, serta mampu menampilkan teks yang sudah diberikan oleh pembina atau dibuat jauh-jauh hari agar menjadi maksimal dan berkesan. Karena sejak MTQ Nasional di Sumatera Utara 2018, cabang Syarhil Qur’an memiliki perubahan ketentuan yakni terpisahnya juara golongan putra dan putri. Sehingga persaingan dalam Syarhil Qur’an pun menjadi lebih sengit karena tim putra bersaing dengan tim putra saja begitu pun sebaliknya.

Syarhil Qur’an yang awalnya hanyalah sebuah cabang dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an, kini menjelma menjadi sebuah cara dakwah islam dengan cara yang mampu memikat audience ketika menyaksikannya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis dengan Dr. M. Sobron Zayyan, MA., pakar Syarhil Qur’an dan pendiri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah bahwa aspek penilaian penting dalam Syarhil Qur’an terdiri dari tiga aspek sebagai berikut:

  • Aspek Informatif

Penampilan dalam Syarhil Qur’an harus mampu memberikan informasi yang aktual dan faktual kepada audience. Baik informasi yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits ataupun dari fenomena yang terjadi.

  • Aspek Persuasif

Sebuah tim Syarhil Qur’an harus mampu memberikan efek persuasif atau dapat mempengaruhi audience sehingga maksud dan tujuan yang ingin disampaikan oleh tim Syarhil Qur’an bisa tersampaikan dengan baik. Hal ini bisa diolah dengan cara latihan intonasi agar tidak monoton, kemudian penghayatan agar penyampaian mengena kepada audience, dan yang tak kalah penting bisa berupa kekompakan tim dalam membawakan variasi dalam teks. Variasi ini bukanlah hal yang menjadi wajib dalam Syarhil Qur’an namun akan menjadi daya tarik sendiri bagi audience.

  • Aspek Rekreatif

Sebuah penampilan Syarhil Qur’an biasanya hanya dibatasi waktu 12–20 menit. Sehingga sebuah tim harus mampu mengemas isi materi dengan sebaik mungkin sesuai waktu yang ada. Aspek rekreatif sangatlah penting dalam Syarhil Qur’an agar audience tidak menjadi bosan dalam menyaksikan dakwah Syarhil Qur’an. Aspek rekreatif ini bisa berupa sholawat, nyanyian, pantun, syair, variasi dalam tim, ataupun yang lain. Dengan catatan tetap harus menjaga norma adab dan kesopanan.

Jika ketiga aspek tersebut dapat dikemas dengan baik dan dengan porsi yang pas, maka akan menghasilkan sebuah penampilan Syarhil Qur’an yang indah, berbobot, dan mampu menarik perhatian audience ketika menyaksikannya.

Penulis : Naufal Asyraf Hamid

Tinggalkan Komentar