Akhlak Baik

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “khuluq”, jamaknya “akhlâq” yang berarti tabiat atau budi pekerti. Akhlak adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat. Sementara itu, yang dimaksud dengan ilmu akhlak ialah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. Senada dengan pengertian ini ulama lain menjelaskan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.

Al-Qur’an menetapkan bahwa akhlak itu tidak terlepas dari aqidah dan syariat, ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat dari surat al-Baqarah (2): 177, yang artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Islam mengatur tolak ukur berakhlak adalah berdasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apa yang dipandang baik oleh Allah dan Rasul-Nya, pasti baik dalam esensinya. Begitu pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kepalsuan sebagai kelakuan baik, karena kepalsuan esensinya pasti buruk. Selain itu, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki sifat yang terpuji, seperti pada QS. Thaha (20): 8 menjelaskan: “(Dialah) Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai sifat-sifat yang terpuji (al-Asmȃˋ al-Husnȃ).” Demikian juga sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad meriwayatkan Aisyah ra. ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW. beliau menjawab: “Akhlak Nabi SAW. adalah al-Qur’an.”

Kecantikan paras bukanlah standar kecantikan seorang wanita yang sesungguhnya. Kecantikan yang sesungguhnya terletak pada keluhuran akhlak yang dimiliki oleh seorang wanita. Kecantikan akan luntur seiring dengan bertambahnya waktu dan usia, tetapi akhlak yang baik akan terus dibawa hingga kapanpun. Oleh  karena itu, berlomba – lombalah dalam berbuat baik dan berakhlak baik kepada sesama manusia.

Kritik dan saran terkait Mading ASC dapat ditulis Disini

Departemen Syiar

Tinggalkan Komentar