Rahasia Keindahan Khat Kufi

Khat Kufi atau kaligrafi Arab dengan gaya Kufi merupakan gaya kaligrafi yang dikenal paling tua dalam peradaban Islam. Dari segi zaman pemakaian, gaya ini sudah dipakai sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu tulisan bergaya Kufi telah dipakai oleh para sahabat untuk merekam ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga surat-surat yang dikirimkan kepada para penguasa yang berisi ajakan untuk masuk agama Islam. Bahkan dalam usaha pengumpulan mushaf Al-Qur’an pada masa khalifah Abu Bakar sampai pada penyalinan mushaf pada masa khalifah Utsman bin Affan, mushaf tersebut juga menggunakan khat Kufi. Sampai pada era berikutnya selain pada mushaf Al-Qur’an khat ini juga digunakan untuk menghias bangunan dan tembikar. Melalui fungsi menghias tersebut, akhirnya khat Kufi dikembangkan terus menerus oleh penduduk Kuffah. Dari tempat ini seni kaligrafi mulai berkembang dengan pesat dengan gaya Kufinya. Bahkan nama Kufi sendiri diambil dari tempat ia berkembang yaitu Kuffah.

Mushaf yang dipercaya sebagai mushaf tertua. Mushaf tersebut menggunakan khat Kufi yang sederhana, tidak ada titik, tidak ada harakat

Khat Kufi ini begitu lama dipakai oleh umat Islam kala itu untuk keperluan ibadah maupun keperluan untuk menuangkan ekspresi keindahan sehingga terciptanya sebuah karya seni berupa kaligrafi. Melalui karya-karya tersebut terbentuklah sebuah peradaban Islam yang begitu terkenal sampai-sampai para orientalis begitu terpesona dengan karya seni tersebut. Mungkin sebuah pertanyaan mengapa kaligrafi arab dengan gaya Kufi yang cenderung berbentuk menyudut, lurus, dan tegak bisa terlihat begitu indah. Maka dari itu melalui tulisan ini akan diuraikan beberapa rahasia-rahasia keindahan pada kaligrafi gaya Kufi.

Sebuah tembikar yang dihias dengan kaligrafi gaya Kufi

Dalam sebuah workshop yang diselenggarakan di Jombang dalam acara “Festival dan Pameran Kaligrafi ASEAN” terdapat sebuah seminar dengan materi khat Kufi yang disampaikan oleh Dr. Abdullah Abdu Futiny. Beliau merupakan Ketua Asosiasi Kaligrafer Saudi Arabia yang berasal dari Universitas Umm Al-Qura. Beliau mengemukakan bahwa dalam kaligrafi Kufi terdapat sebuah rahasia keindahan. Beberapa diantaranya ialah tamatsul dan tanadzur.

Tamatsul adalah tikrar fil yaman wa tikrar fil yasar, mengulang bentuk yang sama di sebelah kanan dan ditulis ulang lagi di sebelah kiri. Pengulangan bentuk yang dimaksud adalah pengulangan karakter bentuk huruf serta ornamen (bila ada). Dalam beberapa jenis khat Kufi terdapat karakter huruf yang lurus dan karakter huruf yang melengkung. Dengan merencanakan secara matang penempatan tiap huruf maka akan mudah menentukan huruf mana yang akan diulang bentuknya.  Berbeda dengan huruf, ornamen ada dalam kaligrafi gaya Kufi karena adanya kekosongan pada area-area tertentu sehingga dibutuhkan ornamen untuk mengisi area-area kosong tersebut. Salah satu cara penggambaran ornamen tersebut adalah dengan metode tamatsul. Sehingga dengan metode ini ornamen akan berbentuk sama dan dengan posisi yang sama pula.

Penerapan tamatsul pada kaligrafi gaya Kufi, Pengulangan ada pada bentuk lam-alif yang memanjang dan saling berjalin (panah berwarna biru), perulangan juga nampak pada bentuk huruf yang memanjang ke atas (panah berwarna hijau) serta bentuk persegi pada huruf ha’ dan bagian bawah dari huruf lam-alif (panah berwarna oranye).

Sementara itu metode tanadzur adalah tikrar wa lakin ma’kus, pengulangan bentuk yang sama tetapi saling berhadapan. Melalui pengertian ini, maka bisa dipahami apa yang membedakan metode tamatsul dengan tanadzur. Keduanya sama-sama merupakan sebuah prinsip pengulangan bentuk, namun pada metode tanadzur posisinya adalah saling berhadapan atau dengan kata lain bentuknya seperti saling bercermin.

Penerapan tanadzur pada kaligrafi gaya kufi, pada gambar dapat ditunjukkan pada kedua panah tersebut. Terdapat jalinan-jalinan dalam posisi yang memutar sehingga nampak sebuah pola yang diulang-ulang.

Bila dilihat dari ilmu seni rupa metode semacam ini termasuk kedalam prinsip seni rupa yaitu keseimbangan, irama, dan keselarasan. Bila dipikirkan hal ini sangat unik, dengan satu metode maka dapat mencapai keseimbangan, irama, dan keselarasan pada sebuah karya seni. Prinsip keseimbangan dalam seni rupa adalah kesan yang didapat dari suatu susunan yang diatur sehingga terdapat daya tarik yang sama pada tiap-tiap sisi susunan. Untuk mencapai susunan yang seimbang tersebut dapat dicapai dengan mengatur letak unsur-unsur hingga terasa tidak berat sebelah antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Pengaturan tersebut bisa dilakukan dengan susunan yang simetris atau sisi kanan dengan sisi kiri sama.

Susunan semacam ini sangat sering ditemui dalam kaligrafi arab terkhususnya Kufi. Selain itu susunan yang simetris juga memiliki kesan karakter tersendiri apabila dengan susunan yang asimetris. Susunan yang simetris akan menimbulkan kesan yang pasif sedangkan susunan yang asimetris akan menimbulkan kesan yang dinamis. Meski susunan yang simetris menimbulkan kesan pasif, disisi lain susunan ini juga akan memunculkan kesan keagungan pada sebuah karya. Maka bisa kita pahami bahwa penyusunan kaligrafi yang rata-rata simetris bukan sekedar asal susun. Kaligrafi merupakan karya seni yang dibuat oleh umat muslim yang ditujukan untuk menunjukkan sisi keagungan Allah SWT.

Susunan kaligrafi gaya Kufi yang simetris, tampak sisi kanan dengan kiri sama.

Prinsip kedua yaitu prinsip irama, yaitu pengulangan satu atau beberapa unsur secara teratur dan terus-menerus. Bila dari segi arti ini maka prinsip ini amat mirip dengan metode tamatsul dan tanadzur. Sama halnya dengan sebuah musik, karya seni rupa juga membutuhkan adanya irama. Dengan adanya irama maka akan membantu prinsip kesatuan, menyatukan seluruh objek agar tidak tercerai berai. Dengan adanya irama sebuah kaligrafi dapat membentuk sebuah bentuk tertentu yang solid atau kuat walaupun pada dasarnya terbagi atas beberapa huruf yang disusun.

Ketiga adalah prinsip keselarasan atau nama lainnya adalah harmoni. Prinsip ini adalah hubungan kedekatan unsur-unsur yang berbeda. Salah satu cara agar kedekatan unsur-unsur tersebut dapat dicapai adalah dengan menyamakan karakter bentuk objeknya. Pada kaligrafi Kufi telah disinggung terdapat karakter-karakter huruf yang lurus dan melengkung. Dengan pengolahan karakter tersebut maka antar bagian dalam kaligrafi akan menjadi selaras karena kemiripan karakter tersebut.

Gambar diatas merupakan contoh susunan yang selaras, dapat dilihat terdapat penyerupaan bentuk yang mendatar (panah berwarna ungu), melengkung (panah berwarna biru dan oranye), tegak (panah berwarna merah), dan berjalin (panah berwarna hijau).

 

sahabat qurani

UKM Al-Qur'an Study Club merupakan UKM baru di Universitas Negeri Malang pada tahun 2013 yang bergerak dalam ranah pembinaan ke-alqur'anan. Namun eksistensi UKM ASC telah mewarnai kampus dengan berbagai prestasi yang gemilang.

You must be logged in to post a comment.