Titik, Unsur Penting Kaligrafi

Pada era ini titik sebagai salah satu unsur dalam tulisan Arab sangat penting posisinya sebagai pembeda antara huruf satu dengan huruf yang lain. Hal ini tidak bisa dipungkiri apabila kita membaca teks Al-Qur’an tanpa adanya titik, maka kita akan kebingungan sendiri. Walaupun begitu, faktanya mushaf-mushaf terdahulu masih belum menggunakan titik dan harakat karena saat itu kaum muslim masih orang-orang arab yang fasih berbahasa arab. Namun ketika agama Islam mulai meluas, pemeluk agam Islam tidak lagi orang-orang arab saja tetapi ada orang-orang non arab yang belum tentu fasih berbahasa arab sehingga mendorong adanya tanda-tanda untuk memperjelas tulisan dalam Al-Qur’an sehingga dapat dibaca secara benar. Penggunaan titik pada sistem penulisan arab baru ditemukan oleh seseorag bernama Abu Al-Aswad. Dalam sistem penulisan Abu Al-Aswad menempatkan “titik-titik” tinta berwarna merah yang berfungsi sebagai syakl yang menunjukkan unsur-unsur kata arab yang tidak terwakili oleh huruf-huruf,

  1. Tanda fathah (a) dengan satu titik diatas huruf
  2. Tanda kasrah (i) dengan satu titik dibawah huruf
  3. Tanda dhammah (u) dengan satu titik disebelah kiri huruf
  4. Tanda tanwin (an, in, un) dengan dua titik

Demikian peran titik telah mengantarkan umat muslim dalam mempermudah membaca Al-Qur’an maupun teks-teks lain yang berbahasa arab. Namun peran titik tidak berhenti sampai disitu. Dalam dunia kaligrafi peran titik masih sangat dibutuhkan, bukan hanya sekedar pembeda huruf-huruf hija’yah. Menurut Syaikh Belaid Hamidi peran titik dalam kaligrafi adalah sebagai kompas (busholah) dan sebagai ukuran huruf.

Sebelum membahas kedua hal tersebut, alangkah lebih baik apabila kita mengenal titik terlebih dahulu secara mendetail. Untuk menjadi sebuah titik seperti yang biasa kita lihat pada teks-teks berbahasa arab, sebuah titik memiliki rahasia-rahasia penulisan yang perlu kita ketahui. Bahkan melalui titik ini seseorang yang belajar kaligrafi diberikan sebuah ilmu dasar yang nantinya akan sangat berguna dalam menulis huruf-huruf arab. Sebuah titik sebagaimana kita tahu berbentuk seperti bujur sangkar atau belah ketupat. Melalui analogi bentuk geometri ini kita akan mampu membedah dengan mudah rahasia dari sebuah titik. Melalui wikipedia dijelaskan bahwa sebuah bangun datar bujur sangkar atau belah ketupat memiliki sebuah sifat yaitu semua sisi-sisinya sama panjang, sudut yang berhadapan sama besar, kedua diagonal berpotongan tegak lurus dan sama panjang. Lebih rinci kemiringan atau sudut yang digunakan pada sebuah titik adalah sudut 45 derajat.

 

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa titik terbentuk sebagaimana sebuah bangun datar. Dalam proses penulisannya, sebuah titik diawali dengan sebuah sudut 45 derajat dari mata pena pada hal ini akan menjadi salah satu sisi dari bujur sangkar, kemudian digoreskan sehingga membentuk sebuah titik. Setelah itu akan terlihat bahwa titik memiliki sisi yang sama dengan panjangnya yaitu satu mata pena dan sudut yang dibuat juga sama besar yaitu 45 derajat. Untuk memperjelas uraian tersebut dapat dilihat gambar dibawah ini

Setelah mengetahui rahasia penulisan titik barulah kita pelajari peran titik pada kaligrafi. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa titik memiliki fungsi sebagai kompas (busholah) dan sebagai ukuran huruf. Kompas atau busholah adalah kemiringan sebuah huruf baik vertikal maupun horizontal. Perlu diketahui bahwa sebenarnya pada setiap penulisan kaligrafi ada sebuah kemiringan-kemiringan huruf yang sering menjadi keluputan bagi orang-orang awam yang belum mengenal kaligrafi secara dalam atau mempelajari kaligrafi secara otodidak. Dijelaskan oleh Syaikh Belaid Hamidi bahwa kemiringan huruf-huruf ini bagaikan kemiringan bumi. Kemiringan ini sangat penting untuk menjaga irama dalam sebuah karya seni sebagaimana dalam sebuah teori seni terdapat sebuah prinsip seni yang bernama irama. Apabila dalam sebuah karya seni tidak ada irama akan menjadikan karya tersebut tidak beraturan atau berantakan.

Busholah pada khat Tsuluts

Busholah pada khat Naskhi

sahabat qurani

UKM Al-Qur'an Study Club merupakan UKM baru di Universitas Negeri Malang pada tahun 2013 yang bergerak dalam ranah pembinaan ke-alqur'anan. Namun eksistensi UKM ASC telah mewarnai kampus dengan berbagai prestasi yang gemilang.