Memaknai Teguran Allah Kepada Rasul Berkenaan Kaum Difabel

Islam telah memberikan petunjuk bagaimana memperlakukan kaum difabel, kisah dari Rasulullah SAW. Dapat menjadi pelajaran bagaimana seharusnya kaum difabel mendapatkan hak yang semestinya.

Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, demikian juga diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas, Sedang Rasullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal, dan Abbas bin Abdul Muthalib, dengan maksud memberi keterangan mereka tentang hakikat Islam[1]. Namun tak disangka-sangka ada seseorang yang buta datang kepada Rasul namanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Ketika itu masuklah lelaki buta tersebut dan langsung masuk kedalam majelis dengan tangan yang meraba-raba. Abdullah bin Ummi Maktum langsung berseru dengan suara agak keras: “Ajarkanlah kepadaku apa-apa yang telah di ajarkan oleh Allah ajarkan kepadamu”. Akan tetapi Nabi SAW berpaling darinya.

Setelah itu beliau pulang dan menuju kerumah, maka turunlah wahyu yang menegur sikapnya rasul tersebut. Yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat ‘Abasa Ayat 1-4 turun sesudah surat An-Najm:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (١) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (۲) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (۳) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (۴)

Artinya: (1) Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, (2) karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum), (3) Dan taukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), (4) atau dia (ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?[2]

Senada dengan tafsir Al-azhar, tasir Jalalain juga mengisyaratkan hal yang sama. Dalam surat ‘Abasa عبس (dia telah bermuka masam) yakni Muhammad telah bermuka masam- وتولّى (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena, اعمى ان خاءه (telah datang seorang buta kepadanya) yaitu Abdullah bin Ummi Maktum. Nabi SAW. Tidak meladeni nya pada saat itu ia sedang sibuk menghadapi orang-orang yang di harapkan untuk dapat masuk Islam,[3]. Setelah itu, bila mana datang Abdullah bin Ummi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan: “Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya”, lalu beliau menhamparkan kain serbanya sebagai tempat duduk Abdullah bin Ummi Maktum.

Ayat 3 dan 4 juga berkaitan (3) Dan taukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), (4) atau dia (ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?

Dengan kedua ayat ini Rasulullah SAW. Diberi ingat oleh Allah, bahwa Ibnu Ummi Maktum lebih besar harapanya akan berkembang lagi menjadi seorang yang saleh seseorang yang bersih hatinya, walaupun buta. Karena buta kalau jiwa bersih kebutaan tidaklah akan menghambat kemajuan iman seseorang. Bayangkan saja betapa halus perkataan itu dari Allah seorang cacat jasmaninya dalam keadaan buta, tetapi dapat lebih maju dalam iman, adalah salah satu pujian bagi Ibnu Ummi Maktum. Dan orang pun melihat sejarah gemilang beliau sehingga di dalam sebuah riwayat dari Qatadah, yang diterimanya dari Anas bin Malik, bahwa di zaman pemerintahan Amirul mukminin Umar bin Khatab, Anas melihat dengan matanya sendiri, Ibnu Ummi Maktum turut dalam peperangan hebat  di Qadisiyah, ketika penaklukan Negeri Persia, dibwah pimpinan Sa’ad bin Abu Waqqash[4]

Kisah dari Abdullah bin Ummi Maktum akan menambah khazanah pengetahuan kita bersama. Teguran Allah karena tidak memperhatikan kaum difabel secara serius. Hal tersebut akan menjadi bekal umat islam untuk lebih memperhatikan orang-orang difabel dalam berbagai bentuk keadaan, mereka membutuhkan uluran tangan kita semua untuk berkembang. Tanpa adanya supporting dari berbagai macam element masyarkat dan pemerintah mereka akan stagnan (berhenti) tetap terus menutup diri, dari berbagai lingkungan masyarakat

Maka dari itu sudah seharusnya masyarakat dan pemerintah bersatu memberikan bantuan. Perlunya penyadaran, mengerti bagaimana perasaan yang dirasakan oleh difabel selama ini ketika mendapat diskriminasi. Menggugah qalb (hati) setiap umat muslim untuk ikut merasakan, apa yang mereka rasakan supaya memahami perasaan yang mereka hadapi selama ini.

Oleh: M.Ilham Nurhakim

Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang

[1] Hamka. 2015. Tafsir Al-Azhar Juz Amma. Jakarta : Gema Insani

[2] Al-Qur’an. Al haram Al-Qur’an Transelitrasi Per Kata dan Tajwid Berwarna Edisi 1 Tahun 2016. Yogyakarta: PT. Iqro Indonesia Global

[3] Tafsir Jalalain. 2012. Terjemahan Tafsir Jalalain Jilid 4 berikut Asbaabun Nuzulnya oleh Imam Jalaludin Al-Mahali dan Imam Jalaludin As-Suyuti . Bandung: Sinar Baru Algensindo Hal 2657

[4] Hamka. 2015. Tafsir Al-Azhar Juz Amma. Jakarta : Gema Insani

 

sahabat qurani

UKM Al-Qur'an Study Club merupakan UKM baru di Universitas Negeri Malang pada tahun 2013 yang bergerak dalam ranah pembinaan ke-alqur'anan. Namun eksistensi UKM ASC telah mewarnai kampus dengan berbagai prestasi yang gemilang.